
HALAL CORRIDOR – Ibadah kurban bukan hanya tentang menyembelih hewan dan membagikan daging kepada masyarakat. Lebih dari itu, kurban juga menjadi bentuk kepedulian sosial yang harus dijalankan sesuai prinsip halalan thayyiban — tidak hanya halal secara syariat, tetapi juga aman, sehat, higienis, dan ramah lingkungan.
Masih banyak masyarakat yang fokus pada ukuran hewan kurban tanpa memperhatikan proses penanganannya secara menyeluruh. Padahal, kualitas daging kurban sangat dipengaruhi sejak tahap pemilihan hewan, proses penyembelihan, hingga distribusi daging kepada penerima.
Peneliti sekaligus Trainer dari Halal Science Center IPB University, Edit Lesa Aditia, M.Sc., menjelaskan bahwa pelaksanaan kurban yang ideal setidaknya memiliki tiga pilar utama. Mulai dari pemilihan hewan yang sesuai syariat, pemahaman perhitungan karkas, hingga penanganan daging yang higienis dan ramah lingkungan.
Penjelasan tersebut disampaikan dalam pelatihan penanganan dan penyembelihan hewan kurban yang digelar oleh Halal Science Center IPB University bersama LPPOM pada 16 Mei 2026 di Kampus IPB Cilibende, Bogor yang dikutip secara langsung melalui laman halalmui, Selasa, (26/5).
Baca Artikel Menarik Lainnya: Peralatan Dapur dan Elektronik Harus Bersertifikat Halal? Ini Penjelasannya
1. Memilih Hewan Kurban yang Sehat dan Sesuai Syariat
Tahapan pertama sekaligus paling penting dalam ibadah kurban adalah memastikan hewan yang dipilih memenuhi syarat syariat dan berada dalam kondisi sehat.
Banyak orang masih menganggap hewan berbobot besar pasti memiliki kualitas terbaik. Padahal, ukuran tubuh bukan satu-satunya penentu kualitas daging kurban. Kondisi kesehatan hewan, usia yang telah memenuhi syarat, hingga perlakuan terhadap hewan sebelum disembelih justru sangat berpengaruh terhadap hasil akhir daging.
Menurut Aditia, hewan yang telah cukup umur biasanya ditandai dengan pergantian gigi. Selain itu, hewan juga harus dipastikan bebas dari penyakit dan tidak mengalami stres berlebihan sebelum proses penyembelihan.
Hewan yang stres atau kelelahan dapat mengalami penurunan kualitas daging. Kondisi tersebut memicu peningkatan hormon kortisol dan mengurangi cadangan glikogen pada otot, sehingga daging menjadi lebih gelap, keras, tampak kering, dan lebih cepat rusak.
Karena itu, penerapan prinsip ihsan atau memperlakukan hewan dengan baik menjadi bagian penting dalam pelaksanaan kurban yang berkualitas. Perlakuan yang baik tidak hanya memenuhi nilai kemanusiaan, tetapi juga berdampak langsung pada mutu daging yang akan dikonsumsi masyarakat.
2. Memahami Perhitungan Karkas agar Distribusi Tepat
Selain memilih hewan yang baik, panitia kurban juga perlu memahami perhitungan karkas agar proses distribusi berjalan lebih adil dan terukur.
Karkas adalah bagian tubuh hewan setelah disembelih dan dipisahkan dari kepala, kulit, kaki, ekor, serta isi jeroannya. Dari total bobot hidup hewan, persentase karkas umumnya berkisar antara 45 hingga 55 persen, tergantung jenis dan kondisi ternak.
Pemahaman mengenai estimasi karkas sangat membantu panitia dalam menghitung jumlah daging yang akan diperoleh. Dengan begitu, proses pembagian kepada masyarakat bisa dilakukan lebih tepat tanpa risiko kekurangan atau ketimpangan distribusi.
Tidak hanya itu, perhitungan karkas juga mempermudah perencanaan logistik selama proses penyembelihan. Mulai dari kebutuhan tenaga kerja, jumlah wadah distribusi, hingga pengaturan waktu pemotongan dapat dipersiapkan lebih matang sejak awal.
3. Penanganan Daging Kurban yang Higienis dan Ramah Lingkungan
Tahapan setelah penyembelihan sering kali kurang mendapat perhatian, padahal kualitas daging sangat ditentukan oleh proses penanganannya.
Daging kurban segar sangat rentan terkontaminasi bakteri apabila tidak ditangani dengan baik. Oleh sebab itu, proses pengulitan, pemotongan, hingga pengemasan harus dilakukan secara higienis menggunakan peralatan bersih dan area kerja yang layak.
Kebersihan petugas penyembelihan juga menjadi faktor penting untuk menjaga kualitas daging tetap aman dikonsumsi masyarakat.
Selain aspek higienitas, pengelolaan limbah kurban kini juga menjadi perhatian dalam pelaksanaan kurban modern. Limbah seperti darah, isi jeroan, dan sisa pemotongan perlu dikelola dengan baik agar tidak mencemari lingkungan maupun menimbulkan bau tidak sedap di sekitar lokasi penyembelihan.
Sejumlah panitia kurban bahkan mulai beralih menggunakan kemasan ramah lingkungan seperti besek bambu atau kantong berbahan organik untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Aditia menilai edukasi mengenai kurban halal dan thayyib perlu terus diperkuat agar masyarakat semakin memahami pentingnya kualitas dalam setiap tahapan penyembelihan.
“Ibadah kurban bukan hanya memenuhi syariat, tetapi juga harus menghasilkan distribusi pangan yang aman, higienis, berkualitas, dan lebih berkelanjutan,” ujarnya.
Melalui penerapan tiga pilar tersebut, pelaksanaan kurban tidak hanya menjadi ibadah tahunan semata, tetapi juga menghadirkan manfaat kesehatan, sosial, dan lingkungan yang lebih luas bagi masyarakat. (AL)


Tinggalkan Balasan